Arrow
Arrow
Slider


- Website Resmi Pemerintah Kota Solok -

Cuaca

Thursday - February 22, 2018

Weather: 27°C

SOLOK,  Misi kemanusiaan yang diusung Pemerintah Kota Solok terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dan gizi buruk yang melanda masyarakat di Kabupaten Asmat Propinsi Papua, mendapat apresiasi dari masyarakat setempat. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Umum PMI Kota Solok yang juga menjadi bagian tim kemanusiaan Pemko Solok Peduli Asmat Papua Ronnie D Daniel, kepada Haluan lewat telepon selulernya Minggu (4/2).

Kehadiran tim yang beranggotakan sebanyak 5 orang terdiri dari Nasril In Dt Malintang Sutan (perwakilan DPRD), Ronnie D Daniel (PMI) dr. IGM Afridoni, Spa, Hartini herawati dan Febrianto Syahril  (Dinskes) di kabupaten Asmat yang merupakan pemekaran dari kabupaten Merauke ini, lantaran tim kemanusiaan dari Kota Solok merupakan satu-satunya perwakilan Kabupaten/Kota se-Indonesia yang hadir di kabupaten yang memiliki 23 distrik (kecamatan) dan 224 desa tersebut.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah paling ujung nusantara itu pada Rabu (31/1) lalu, tim langsung disambut oleh Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos di posko utama KLB di kota Agats yang merupakan ibukota kabupaten Asmat. Meskipun jauh dan berbiaya besar serta kebudayaan dan keyakinan berbeda, ternyata tidak menghalangi semuanya.  “Kami sungguh tidak menyangka Bapak, Ibu berkenan datang jauh jauh dari bagian tengah pulau Sumatra ke kampung kami. Apalagi dengan membawa tenaga relawan dan berbagai jenis bantuan yang sangat kami butuhkan,” kata Bupati Asmat Elisa Kambu, S.Sos dikutip Ronnie Daniel.

Ronnie menyebutkan, kebanyakan relawan dan tim kemanusiaaan yang datang ke daerah itu, rata-rata dari swasta dan pemerintah pusat serta lembaga lain yang dibiayaai dengan dana Corporate sosial responsibility (CSR). Sementara  tim kemanusiaan Kota Solok berangkat dengan dana yang berbeda-beda. Semisal PMI dibiayai dengan PMI, perwakilan DPRD dengan dana DPRD dan tenaga medis dinkes dibiayaai oleh APBD Kota Solok. Hal itu ternyata bukan halangan untuk memberikan bantuan kemanusiaan meski biaya yang keluarkan cukup besar. “Karena komitmen sejak awal keberangkatan, kita tidak ingin membebani pemerintah setempat. Kita langsung ditugaskan untuk membantu warga di puskesmas Agats, kebetulan di sana tidak ada dokternya,” kata Ronnie.

Sumber : https://www.harianhaluan.com